Saya, yang Menemukan Diri dalam Diam
Saya tidak butuh banyak keramaian untuk merasa hidup. Justru dalam sunyi, ketika orang lain sibuk mencari sorak sorai, saya menemukan ruang untuk bernapas, menulis, merancang, dan menyelesaikan pekerjaan dengan alur yang alami.
Menulis cerpen bukan hanya soal menuangkan ide, tapi semacam perpanjangan dari diri saya sendiri. Ia lahir dari ruang sunyi yang saya pilih, bukan dari ruang kosong. Dan ketika saya bekerja, saya tahu arah saya, saya tahu batasnya.
Saya hadir untuk teman-teman kerja saya bukan hanya lewat tangan, tapi juga lewat ide dan kehadiran yang entah bagaimana mereka anggap berguna. Saya pun tahu bahwa tidak semua orang memahami waktu saya yang terbagi. Saya sudah menikah, dan itu membuat saya tidak selalu tersedia. Tapi saya tetap punya cinta dan tawa untuk keluarga kecil saya. Saya hanya ingin sedikit waktu untuk tetap menjadi diri sendiri.
Saya tidak merayakan kesuksesan.
Bukan karena tidak menghargainya, tapi karena saya tahu jalan belum selesai.
Kalau hidup ini seperti melukis, saya masih terus belajar warna, garis, dan cahaya yang baru. Karena sering kali, untuk membuat sesuatu berjalan lebih baik, saya justru harus berjalan ke arah yang belum pernah saya lewati.
Saya tidak selalu terlihat menonjol, tapi saya tahu bahwa yang tenang juga bisa dalam.
Oleh Yudiarta Indralutfi, S.S
Diupload : Senin, 3 November 2025, pukul 14:06:23